Peran Ayah sebagai Imam dalam Keluarga

Jika Islam memuliakan sosok ibu dan perannya dalam keluarga, maka Islam juga mengajarkan kita untuk menghormati sosok ayah dan perannya dalam keluarga.

Bukan Hanya Nafkah
Tentu anggapan yang salah jika ayah tidak berkewajiban berperan dalam aktivitas sehari-hari seperti membantu mengurus anak dan lain sebagainya tetapi hanya berkewajiban dalam menafkahi keluarganya.

istimewa

Seringkali orang menganggap bahwa peran utama seorang ayah adalah menafkahi anak dan istrinya. Para ayah harus siap untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dari mulai biaya hidup sehari-hari, pendidikan anak, hingga masalah kesehatan yang tak terduga.

Hal itu separuhnya benar dan separuhnya lagi salah. Mengapa?

Menurut pandangan Islam, peran dari seorang ayah atau suami Muslim yaitu menyediakan kebutuhan berupa keuangan kepada keluarganya. Merupakan peran mereka untuk memberikan keluarganya kehangatan, kasih sayang, dan cinta terhadap Allah serta membimbing keluarganya menjadi keluarga yang merasakan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kebenaran di jalan Allah.

Maka dari itu, para ayah sebagai imam dalam keluarga pun berperan penting dalam membawa anak-anak mereka mengarungi kehidupan. Para ayah mempunyai peran yang besar dalam mengajarkan anak mereka menjadi orang yang baik dan menjadi orang yang sukses.

Pemimpin yang Bijaksana
Seorang anak sering kali merasa lebih merasa takut terhadap ayahnya. Mengapa?

Sudah merupakan kodrat para pria untuk dijadikan pemimpin, lantas hal itu pun berlaku dalam hidup berkeluarga. Kewibawaan membuat para pria lebih ditakuti dan disegani dibanding wanita.

istimewa

Tanggungjawab dan kasih sayang seorang ayah

Dalam struktur keluarga, seorang anak membutuhkan sosok ayah yang dapat membimbing mereka di samping sosok ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang.

Seorang istri pun membutuhkan sosok suami yang lebih dari dirinya. Lebih dari istri di sini tentunya dalam hal positif. Istri membutuhkan sifat-sifat dari suami seperti lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih sabar, dan lain sebagainya. Intinya, seorang istri membutuhkan suami yang dapat melengkapi mereka dalam hidup berkeluarga di dunia dan suami yang dapat membawa keluarga mereka menggapai ridha Allah hingga ke surga.

Kewibawaan seorang ayah atau suami dalam Islam tidak lantas dapat disamakan dengan mudah marah atau galak. Seperti yang terdapat dalam hadits berikut.

Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang mukmin marah kepada wanita yang beriman, jika dia membenci darinya satu sifat, dia akan menyukainya karena sifatnya yang lain.” (HR. Muslim).

Seorang suami harus dapat menempatkan diri dengan berbagai situasi. Misalnya saat istri ingin mendiskusikan sebuah keputusan, hendaknya mempertimbangkan dengan baik dan buruk dalam pandangan Allah, bukan semata-mata atas kehendak pribadi yang didasari oleh nafsu manusia.

Maka dari itu seiring adanya kewibawaan dalam diri suami atau ayah, kebijaksanaan pun harus hadir bersamanya. Sebagaimana yang sering kita dengar, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bijaksana.

Seorang yang bijak akan menimbang suatu permasalahan dari sisi baik dan sisi buruk suatu hal. Kebijaksanaan mencegah kepemimpinan dari otoritas yang tidak jelas landasannya.
istimewa

Perlu diketahui bagi para ayah bahwa keluarga adalah struktur terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi pemimpin keluarga sudah tentu bukan hal yang dapat disepelekan karena struktur terkecil itulah yang dapat menentukan bagaimana struktur besar akan terbentuk.

Suami atau ayah tentu bukan makhluk Tuhan yang sempurna. Menyadari pentingnya peran suami atau ayah dalam berkeluarga tidak lantas membuat para wanita mencari laki-laki yang sempurna untuk melimpahkan seluruh beban dan tanggung jawab kepadanya.

Laki-laki memang memegang peran yang penting sebagai imam di keluarga, namun ia pasti membutuhkan perempuan yang bersedia berjalan bersamanya dalam suka dan duka demi mencapai Jannah-Nya Sang Maha Pencipta.

You may also like...