Belajar Dari Pemain Basket Qatar, FIBA Buat Aturan Baru Tentang Atlet yang Berhijab

Pada tahun 2014 silam di ajang Asian Games di Korea Selatan, menjadi tamparan keras bagi pemain basket Putri asal Qatar. Pasalnya mereka harus menelan kekalahan sebelum bertanding alias WO. Tim Qatar terpaksa harus mundur karena adanya peraturan dari FIBA yang tidak memperbolehkan pemain mengenakan penutup kepala termasuk jilbab karena dianggap bisa membahayakan lawan. Bahkan pihak FIBA sama sekali tidak mengijinkan tim tersebut masuk ke area lapangan basket.

FIBA atau Organisasi Bola Basket Internasional memiliki aturan khusus bagi pemain basket untuk tidak mengenakan aksesoris berlebihan di kepala. Aksesoris yang diperbolehkan hanyalah pengikat kepala atau headband dengan lebar tidak lebih dari lima sentimeter. Namun siapa sangka, mereka tidak memasukkan peraturan khusus untuk wanita muslim yang berhijab. Sehingga dengan mengacu dari peraturan lama, tentu saja para pemain basket dari Qatar yang berhijab mendapatkan diskulifikasi dan harus menelan pil pahit kekalahan.

Buah Dari Usaha  Bilqis dan Kawan-Kawan

istimewa

Bilqis pemain timnas Basket Qatar

Bilqis Abdul-Qaadir, seorang pemain basket berjilbab asal Qatar yang mencetak rekor poin terbanyak sebagai pemain SMA dengan 3.070 poin mengalahkan rekor bintang WNBA All Star Rebecca Lobo yang mencetak poin 2.740. Dengan pengalaman yang sangat mumpuni di lapangan basket termasuk di NCAA Divisi 1, Bilqis dengan percaya diri ikut mengadu nasib dengan bermain di liga basket Eropa. Namun sayangnya, mimpi Bilqis untuk mengikuti ajang turnamen basket skala Internasional terpaksa harus terhenti dengan adanya peraturan FIBA yang tidak mengijinkan pemain basket mengenakan jilbab.

Sejak saat itulah Bilqis bersama timnya melakukan kampanye dan membuat petisi untuk FIBA agar mereka bersedia mengubah peraturan tentang penutup kepala bagi pemain basket. Hebatnya, aksi Bilqis di Amerika tersebut justru mengunggah hati para pemain basket dari negara lain yang juga menggunakan jilbab. Lebih dari 130.000 tanda tangan petisi untuk Change.org dapat dikumpulkan untuk mendesak FIBA merubah peraturannya. Bilqis dan kawan-kawan berusaha keras untuk menjelaskan kepada FIBA bahwa jilbab sama sekali bukan sesuatu yang berbahaya maupun membahayakan.

Bahkan dari Indonesia sendiri pun juga ada pebasket putri yang turut andil dalam aksi tersebut, ia adalah Raisa Aribatul Hamidah alias Ida. Ida adalah salah satu guard putri terbaik di Indonesia dengan kemampuannya yang beberapa kali mendapatkan juara bersama Surabaya Fever. Sama seperti nasib Bilqis, karena adanya peraturan Internasional tersebut, panitia seleksi pemain untuk tim nasional di Indonesia pun enggan memanggilnya untuk bermain di timnas.

Atas kejadian tersebut dan karena banyaknya desakan dari petisi yang dilayangkan, tampaknya tim FIBA mulai luluh pada awal 2017 lalu. Sempat melakukan beberapa kali diskusi dan rapat terkait perubahan peraturan FIBA, tepat di bulan Mei 2017, FIBA melalui kongres Mid-Term menyatakan sepakat untuk mengubah peraturan terkait larangan menggunakan penutup kepala. Putusan ini bahkan sudah disetujui 139 federasi negara-negara yang tergabung dalam FIBA. Tidak ada satu federasi pun yang menolak hasil revisi tersebut, tentu saja ini membuktikan bahwa sebenarnya dari awal peraturan dari FIBA tidak bermaksud mendiskriminasi siapapun dan murni sebagai upaya keamanan dan keselamatan pemain.

Kini para pemain basket berjilbab mendapatkan angin segar untuk mulai menunjukkan aksinya di kancah turnamen basket nasional maupun internasional. Hasil tidak akan menghianati proses, begitulah ungkapan yang tepat untuk Bilqis dan kawan-kawan yang ikut andil memperjuangkan hak kaum muslimah.

You may also like...