Kisah Korban Perang Ribuan Hari yang Terlupakan di Yaman

Terbiasa hidup damai tanpa memikirkan kemungkinan akan terjadinya perang, kita sebagai warga Indonesia tentu tidak mengetahui apa yang dirasakan saudara-saudara kita di negara yang sedang terjadi perang.

Sebut saja di Yaman, sudah ribuan hari sejak perang tersebut dimulai yaitu pada 19 Maret 2015, namun nyatanya perang tersebut masih saja berlangsung seolah-olah tak ada satupun alasan yang kuat untuk menghentikannya.

istimewa

Foto kelompok pemberontak di Yaman

Perang ini sungguh melibatkan banyak pihak, dari mulai kelompok pemberontak Al-Houthi, kelompok pemberontak Syiah, Al-Qaeda, hingga turut campurnya Arab Saudi dan lalu lalangnya pasukan tentara canggih Amerika Serikat yang membuat perang ini sungguh brutal dan mematikan.

Keadaan pun sudah semakin tidak meyakinkan. Menurut PBB, terhitung sejak perang dimulai pada Maret 2015 hingga Desember 2017 sudah tercatat korban sekitar 8.670 – 13.600 jiwa yang terbunuh di Yaman, termasuk diantaranya adalah 5.200 warga sipil.

istimewa

Foto korban warga sipil akibat konflik perang di Yaman

Selain korban yang harus kehilangan nyawanya, menurut Jamie McGoldrick yang merupakan koordinator badan kemanusiaan dari PBB untuk Yaman, sekitar 40.000 orang mengalami luka-luka. Bahkan sekitar tujuh juta orang yang terkena dampak langsung di tempat peperangan mengalami krisis pangan.

Keterlibatan Arab Saudi yang mengaku ingin membantu mengusir para pemberontak Al-Houthi dengan melakukan banyak serangan bom ternyata sangat dikecam oleh komunitas internasional di seluruh dunia. Bahkan salah seorang perwakilan PBB pun mengatakan bahwa negara milik Raja Salman itu sudah keterlaluan dalam mengakibatkan krisis kemanusiaan.

Bagaimana dunia tidak mengecam jika bantuan yang diberikan oleh pasukan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud itu adalah dengan mengirimkan serangan udara yang sangat banyak hingga menewaskan ratusan warga sipil.

istimewa

Foto kondisi Anak-anak dan warga Korban Perang di Yaman

Perang yang terus berlangsung menimbulkan suatu ketakutan tersendiri bagi warga sipil di Yaman. Mereka tak lagi dapat menjalani aktivitas keseharian sebagaimana yang biasa mereka lakukan sebelum perang dicetuskan. Bahkan mereka harus rela kehilangan anggota keluarga dan kerabat mereka.

Sebuah situs internasional bernama DW.com berhasil melakukan pembicaraan dengan warga sipil Yaman mengenai bagaimana hidup di daerah yang sedang terdapat perang di dalamnya dengan menghubungi orang-orang yang berada di Yaman.

Mengetahui kisah mengenai perang Yaman bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi para jurnalis asing dari media internasional. Hal itu disebabkan oleh akses yang sulit dan control yang ketat pada jurnalis lokal sehingga penyebaran informasi pun sangat terbatas.

Seorang warga sipil yang disamarkan namanya menjadi Ahmed berani mengatakannya. Ahmed adalah seorang ayah yang bekerja sebagai peneliti independen di Sana’a.

Menurutnya, “Kami mencoba untuk mengabaikan perang ini. Setiap hari saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa perang ini tidak akan mempengaruhi saya, bahwa perang ini tidak mengalahkan saya. Saya melakukan hal itu agar dapat terus melanjutkan hidup karena memang itulah yang harus saya lakukan. Namun realitanya, jauh di dalam hati, kami diliputi oleh rasa takut yang sangat banyak. Kami takut akan serangan udara bodoh yang menargetkan warga sipil dibandingkan target militer. Kami takut dipenjara tanpa sebab oleh milisi. Kami takut kehilangan pekerjaan atau tidak mendapatkan pekerjaan. Takut akan penyakit, wabah, tidak mendapat pengobaan,… daftarnya terus berlanjut.

istimewa

Bangunan hancur akibat Konflik yang terjadi di Yaman

Situasi dalam berperikemanusiaan memburuk. Hidup menjadi sulit untuk sebagian besar orang, dan kemiskinan memaksa banyak orang untuk menjadi pejuang. Satu setengah tahun telah berlalu dan seluruh pegawai negara, bahkan para tentara, masih belum dibayar. Banyak orang mencari sumber pendapatan lain untuk tetap melanjutkan hidup dan jumlah pengemis di jalanan pun meningkat. Semakin masyarakay mencoba untuk beradaptasi dengan situasi sekarang, semakin memperburuk konflik dan membawa mereka kembali ke awal.”

Seorang warga yang bernama Heba (nama samara) yang merupakan seorang ketua dari organisasi perkumpulan warga sipil Yaman pun ikut menyuarakan pendapatnya.

“Saya merupakan salah satu dari beberapa orang beruntung yang masih mendapatkan gaji dan mampu membeli barang yang saya butuhkan namun keseluruhan situasi sangatlah buruk, orang-orang tidak mampu membeli kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan utama mereka.

Hidup semakin mahal karena pemblokiran menyebabkan kekurangan persediaan. Faktanya, pemblokiran tersebut adalah salah satu masalah yang secara langsung berpengaruh tidak hanya terhadap kehidupan sehari-hari kaum tidak mampu namun juga terhadap kaum dengan kondisi ekonomi yang baik. Hal itu sangat mempengaruhi impor dan ekspor atas makanan, pakaian, dan obat-obatan.

Kami warga Yaman merasa diabaikan oleh komunitas internasional dan merasa seperti tinggal di planet lain. Memang terdapat prinsip dasar dalam berperang yaitu melindungi warga sipil tetapi prinsip-prinsip tersebut tidak dijalankan. Warga Yaman sedang diserang, dibunuh, dan kekuranagn atas suplai makanan dan kesehatan. Penyakit tersebar dan anak-anaklah yang paling banyak terkena dampaknya. Banyak orang yang kehilangan rumah mereka karena harus meninggalkan daerah berkonflik dan pindah ke tempat yang lebih aman, atau karena rumah-rumah mereka hancur terkena serangan udara.

Biarkan suara kami didengar. Biarkan para korban terlihat, dukung anak-anak kami untuk hidup dalam kedamaian dan menikmati hidup mereka seperti yang dilakukan anak-anak lain di seluruh dunia.”

Bersyukur bukanlah hal yang sulit dan pertolongan bukanlah hal yang merugikan. Kesulitan mereka merupakan kesulitan pula bagi kita sesama makhluk ciptaan Tuhan. Hendaknya kita membantu mereka dengan sukarela dan wujud rasa duka cita sebagai sesama umat manusia yang menjunjung kemanusiaan dan keagamaan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.