Rute Perjalanan Ibnu Batutah

Mendengar nama Ibnu Batutah memang sudah tidak asing, namun mungkin kalian akan mengiranya sebagai salah satu ilmuan Muslim seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, atau Al-Farabi.

Faktanya, pria yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Bathuthah ini adalah seorang penjelajah dunia yang hingga kini belum tertandingi. Bahkan penjelajah yang namanya sudah sangat terkenal seperti Columpus dan Marcopolo tidak akan dapat menyamai Ibnu Batutah.

istimewa

Ia adalah seorang terpelajar asal Maroko yang dengan rasa penasarannya akan dunia luar membuatnya memutuskan untuk mengelilingi dunia untuk menghabiskan waktunya. Ibnu Batutah berhasil mengunjungi 44 negara modern pada abad pertengahan dan menuliskannya dengan mengandalkan ingatannya yang baik.

Berikut adalah rute perjalanan Ibnu Batutah.
istimewa

Awal perjalanannya dimulai saat usianya dua puluh tahun dan ia menunaikan ibadah haji ke kota suci Mekah. Setelahnya ia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 44 negara modern dimana keseluruhannya adalah dunia Muslim sepanjang 120.000 kilometer.

Saat menuju ke Mekah, Ibnu Batutah memilih salah satu dari tiga jalur yang tersedia. Jalur yang ia pilih adalah jalur yang jarang dilalui yaitu berkembara menuju sungai Nil, lalu melalui jalur darat ke dermaja Laut Merah ke arah timur. Namun saat sudah mendekati kota tersebut ia diminta untuk memutar balik karena adanya pertikaian lokal.

Ia pun kembali ke Kairo dan memutuskan untuk menggunakan jalur kedua yaitu melalui Damaskus dan Suriah atas saran dari seseorang yang ditemuinya. Ibnu Batutah pun menghabiskan Ramadhannya di Damaskus.

Kemudian ia bergabung dengan sebuah rombongan yang menuju ke Madinah lalu empat hari kemudian ia melanjutkan menuju Mekah. Ia merenung selama pelaksanaan ritual haji dan sebagai hasilnya ia memutuskan untuk berkembara. Maka ia pun memilih untuk melanjutkan ke Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran).

Ibnu Batutah pun berhasil melewati perbatasan menuju Mesopotamia dengan bergabung pada suatu rombongan. Ia pun mengunjungi tempat Ali bin Abu Thalib dimakamkan. Setelahnya ia pergi ke Basrah, Isfahan dan berlanjut ke Shiraz dan Baghdad.

Ia bertemu pemimpin terakhir Il-Khanate yang bernama Abu Sa’id. Bersama rombongannya, ia berlanjut ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra.

Setelah perjalanan ini, ia kembali menunaikan ibadah haji ke dua di Mekah dan tinggal selama setahun di sana sebelum kembali berkembara melalui pantai Afrika Timur dan Laut Merah. Pertama ia singgah di Aden dengan tujuan untuk berniaga di Semenanjung Arab hingga sekitar Samudra Indonesia.

Ibnu Batutah menghabiskan selama satu minggu di setiap daerah yang dikunjunginya. Ia pun berkunjung ke Ethiopia dan beberapa daerah lainnya. Selesai berpetualang ia memilih berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz sebelum menetap Setelah semuanya ia pun kembali berziarah ke Mekah.

Setelah setahun ia memutuskan untuk bekerja di kesultanan Delhi lalu bergabung dengan suatu rombongan yang menuju ke India. Ia berlayar dari Damaskus hingga Alanya di selatan Turki. Lalu dilanjutkan dengan berkembara ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.
istimewa
Ibnu Batutah pun mennyeberangi Laut Hitam dan tiba di Kaffa. Di sana ia membeli sebuah kereta dan bergabung dengan suatu rombongan bernama Ozbeg lalu melakukan perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

Ibnu Batutah menuliskan seluruh perjalannya dalam sebuah buku yang berjudul Rihlah setelah seorang Sultan Maroko yaitu Sultan Fez memintanya menceritakan penjelajahannya. Buku tersebut menceritakan apa yang dilakukan Ibnu Batutah selama perjalanannya dan akan dijadikan sebagai laporan penjelajahan yang komplit.

Tentu banyak kisah menarik yang terjadi dan dituliskan pada buku tersebut seperti kisah para Sultan, Syeikh, penduduk, dan kejadian pada tempat-tempat yang dikunjunginya.

 

You may also like...