Zheng He, Traveler Muslim

Mengenal Zheng He

Nama Zheng He masih terkesan asing di telinga kita pasalnya ia lebih dikenal dengan nama Cheng Ho. Ia adalah seorang pelaut asal Negeri Tirai Bambu yang membuat sejarah sampai ke Indonesia. Cheng Ho terlahir dengan nama Ma He pada tahun 1371 masehi di Kunyang, Tiongkok.

Ayahnya yang merupakan minoritas di kerajaan Mongolia bukanlah berasal dari ras Mongolia, melainkan keturunan dari Muslim Persia. Keluarganya adalah suku Hui yang beragama Islam. Bahkan baik ayah dan kakek Ma He pernah melaksanakan rukun Islam yang ke-lima yaitu ibadah haji ke tanah suci Mekkah.

Ia dan saudaranya dibesarkan dengan ajaran Islam dan mereka mempelajari mereka sejak usia yang masih muda. Pada usia 10 tahun, Cheng Ho yang dikenal juga dengan sebutan Ma Sanbao diangkat menjadi seorang kasim setelah ditangkap pada penaklukan Yunnan oleh Dinasti Ming. Pada peristiwa tersebut ayahnya terbunuh dan ia dikirim ke Nanjing untuk melayani keluarga Pangeran Yan.

Cheng Ho mempelajari dunia militer dan taktik bela diri serta mendapat ilmu dari sekolah. Lalu ia menjadi orang kepercayaan yang sangat dekat dengan Pangeran Yan.

Memulai Pelayaran

Selama 4 tahun ia menjadi orang yang selalu berada di sisi Pangeran Zhu Di dan merupakan orang yang penting dalam memperkuat kekuasaan kerajaan. Lalu pada tahun 1404 Cheng Ho istimewadiangkat menjadi Kepala Kasim.

Perjalanannya mengelilingi dunia dimulai pada tahun 1404 saat ia berlayar ke Malaka atas perintah Kaisar Yongle. Ini adalah perjalanan pertama dari tujuh perjalanan yang ia lakukan.

Pada tahun 1424 Kaisar Hongxi menggantikan Kaisar Yongle (Pangeran Zhu Di) yang wafat dan memutuskan untuk mengurangi jumlah kasim kerajaan. Lalu Cheng Ho pun melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (1426-1435).

Dengan menggunakan kapal armadanya, Cheng Ho sudah sedikitnya mengunjungi beberapa tempat di dunia seperti Malaka, Vietnam, Taiwan, Palembang (Indonesia), Jawa (Indonesia), Sri Lanka, Selatan India, Persia, Teluk Persia, Arab, Laut Merah hingga ke Mesir, dan Afrika hingga ke Selat Mozambik. Tempat-tempat tersebut ia kunjungi dalam 6 kali perjalanan yang berbeda.

Sebagai seorang Muslim, teman-temannya mengetahui bahwa ia sangat ingin menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah seperti ayah dan kakeknya. Bahkan hal itulah yang menginspirasinya untuk mengunjungi dataran lain.

Pelayaran Terakhir
Tak lama setelah memimpin kerajaan kurang dari dua belas bulan, pada tahun 1426 Kaisar Hongxi wafat. Kaisar Xuande menggantikannya dan membuat keputusan agar Cheng Ho melakukan satu kali lagi perjalanan untuk berlayar ke Samudra Hindia.

Pada usianya yang ke-61 yaitu pada tahun 1432 ia pun berlayar ke Malindi dan berhenti pada beberapa dermaga perdagangan selama perjalanan. Ia wafat pada tahun 1433 pada masa kepulangannya dari pelayaran. Ia dibaringkan untuk menjadikan laut sebagai tempat peristirahatannya. Menurut legenda, anak buah kapalnya membawa beberapa rambut dan sepatunya untuk dikuburkan di daratan.

Kenangan dengan Indonesia

Cheng Ho pernah mengunjungi Indonesia sebanyak 7 kali. Ia pernah mengunjungi Samudera Pasai dan memberikan lonceng raksasa bernama “Cakra Donya” kepada Sultan Aceh yang sampai kini masih tersimpan.

Pada tahun 1415 Cheng Ho mengunjungi Muara Jati (Cirebon) dan menghadiahkan beberapa cinderamata kepada Sultan Cirebon. Salah satunya adalah sebuah piring dengan tulisan ayat Kursi yang masih tersimpan rapih di Keraton Kasepuhan Cirebon.

istimewa

Meskipun kisahnya sudah berlalu ratusan tahun yang lalu, Cheng Ho adalah tokoh yang masih dihormati hingga saat ini. Bahkan warga Tiongkok yang bukan beragama Islam pun tetap menghormatinya.

You may also like...